HATTA SEBAGAI ORANG KEDUA

“Orang yang tidak menulis akan lenyap dari sejarah dan bumi” –Pramoedya Ananta Toer

Tulisan pertama saya terpampang di Year Book SMP Kolese Kanisius berjudul “Napak Tilas Sejarah SMP Kanisius.” Berkaitan dengan tulisan yang genap ke lima puluh di seluruh media dari SMP sampai dengan Perguruan Tinggi, penulis akan menuliskan pendapatnya mengenai Hatta. Tentu saja, setiap dari kita mengetahui siapa sosok Hatta. Seorang proklamator adalah gambaran pertama yang muncul. Tetapi, gambaran ini belum sepenuhnya lengkap, jika saudara membaca otobiografinya “Untuk Negeriku”

Tidak dapat diragukan bahwa Hatta dididik oleh lingkungan agama. Dasar ini membuatnya kuat untuk hidup dimanapun, terlebih untuk menghargai kehidupan yang diberikan oleh Allah. Namun di sisi lain, Hatta mulai berkenalan dengan perdagangan. Sebagai orang Minangkabau, tentu saja memiliki kemampuan pedagang. Maka, ketika ia dilepas oleh Mas Eteknya (disebut begitu dalam bukunya) “Itu adalah takdir Allah, dan semoga pelajaran ekonomi hukum dagang tidak membuyarkan cintanya kepada Allah.” Ketika melepas Hatta.

Penulis tidak akan memberikan resensinya mengenai buku secara mendetail, namun lebih untuk menggarisbawahi apa saja teladan yang diberikan Hatta di dalam hidupnya. Pertama, jadilah orang rasional. Di dalam bukunya yang kedua, ternyata Hatta pernah berdebat lewat tulisan dengan Ir. Soekarno. Pendidikan Nasional Indonesia (PNI) sebagai milik Hatta melawan Partindo milik Soekarno. Di artikel tersebut, Hatta bisa membungkam artikel Soekarno. Tuduhan kerjasama dan tidak bekerjasama yang dituduhkan kepadanya bisa dipatahkan dengan konteks ruang dan waktu. Berkebalikan dengan itu, di Indonesia masa kini, kita saksikan bagaimana konteks ruang dan waktu tidak diperhatikan dengan baik. Seluruh kebijakan pembangunan perekonomian bersifat Jakarta-sentris. Pola pertumbuhan disesuaikan dari pusat, sehingga kurang ada konvergensi antara pusat dengan daerah.

Kedua, adalah sederhana. “Aku begitu serius waktu itu, jarang tersenyum, tapi waktu itu aku akhirnya ikut berkemah” tulis Hatta sebagai caption sebuah foto. Jujur memang diakui bahwa Koran yang ditulis oleh Hatta (Daulat Rakjat) begitu sulit bahasanya. Namun, itu dipergunakan untuk tujuan yang baik. Maksud Hatta adalah untuk mendidik bangsa ini, karena pada saat itu pola pikir kita masih sebagai bangsa yang dijajah, antara patron dengan kliennya. Dalam tulisan Hatta, ketika memimpin Perhimpunan Indonesia, dirinya  menggunakan manajemen yang sederhana dalam memimpin organisasi tersebut. Tujuannya jelas yaitu sebagai gerakan non-coorperate

Akhirnya, Hatta memang ekonom yang memiliki kebaikan dengan hatinya, memiliki semuanya tidak membuatnya hilang arah. Dia turun dari pentas politik setelah melihat Soekarno hilang arah.